Sebuah frasa untuk ku
Hai apa kabar kamu hari ini masa lalu ku ?
Empat hari yang lalu aku sempat melihatmu.
Aku lihat kamu dalam keadaan yang baik-baik saja walaupun
tak sepatah kata terucap darimu.
Aku berharap kamu selalu bahagia, yaa walaupun itu hanya
basa-basi.
Iyaa, kadang aku Cuma basa-basi bilang “semoga kamu bahagia
yaa sama dia”.
Cuma basa-basi, siapa yang tahu kalau disaat yang sama aku
sedang berdoa semoga kalian segera putus.
Oh God aku jahat banget yaa keliatannnya, santai aja aku gak
sejahat itu kok.
Doa seperti itu hanya sesekali terlintas dalam pikiranku,
jangan dianggap serius brotha.
Brotha. Kamu inget gak ? itu panggilan ku ke kamu waktu kita
masih SMA.
Berapa tahun yang lalu yaa ? mmm 4 tahun kira-kira. Lama
juga yaa ..
Sekarang, entah kapan tepanya semua telah kembali pada
jalannya.
Kembali seperti lima tahun lalu, kembali menjadi asing,
kembali saling bisu, kembali menutup telinga.
Tapi ada satu yang tak kembali... kenangan.
Brotha.. aku sekarang ini aku sedang mencari jalan, jalan
setapak ku sendiri.
Aku tak menyalahkan mu yang dulu datang disaat yang tidak
tepat, aku tidak menyalahkan mu jika akhirnya aku yang disalahkan, aku tak
menyalahkan mu jika kamu sekarang bahagia dengannya.
Sungguh aku tak mau menyalahkan mu.
Aku berharap akann ada jalan setapak lain untuk ku sendiri,
tanpa harus menoleh ke arahmu lagi brotha.
Tapi tolong, beri aku sebuah frasa agar aku bisa berjalan
tanpa resah.
Hanya sebuah frasa.
Ditiga perempat malam seperti dulu.
Aku disini menunggu mu.
Untuk sebuah frasa yang akan menyudahi semuanya.
Aku menunggumu, brotha.
-Enamnovemberduaribulimabelas, duapuluh : duapuluh empat-
Komentar
Posting Komentar